Kamis, 25 September 2014.

Luk 9:7-9
Utamakan Kerajaan Allah Daripada Keinginan Manusia

Kegentaran Herodes bukan semata-mata hanya kepada Yesus seorang, melainkan karena Yesus juga melakukan duplikasi.
Kedua belas murid diberi-Nya tenaga dan kuasa untuk menguasai setan-setan serta menyembuhkan penyakit-penyakit.
Lalu Yesus mengutus mereka pergi ke kota-kota dan desa-desa untuk memberitakan Kerajaan Allah, sehingga berita tentang Yesus pun semakin santer dibicarakan orang.

Herodes adalah raja yang berkuasa di wilayah Galilea.
Tetapi kelimpahan sebagai seorang raja nampaknya masih belum cukup memuaskan dirinya.
Mungkin kalau ada peluang untuk menjadi tuhan pun ia mau juga.
Ia ingin berjumpa Yesus bukan untuk diselamatkan, melainkan untuk mengetahui bagaimana caranya Yesus bisa melakukan hal-hal hebat itu.

Saya melakukan napak-tilas mengikuti perjalanan hidup saya selepas kuliah.
Karena tidak mewarisi harta materi dari orangtua, maka saya bercita-cita ingin memiliki sepeda motor agar lebih bisa lagi mengatur waktu saya dalam perjalanan, sulit jika mengandalkan kendaraan umum.
Setelah berhasil memiliki sepeda motor, nampaknya keberhasilan itu belum memberi saya kepuasan.
Saya ingin punya mobil, karena dengan sepeda motor baju saya basah ketika hujan.
Resiko kecelakaan dengan sepeda motor pun jauh lebih parah, bisa membuat patah tulang atau gegar otak, atau malah tewas.
Dengan mobil, resikonya lebih kecil, paling-paling mobilnya yang lecet atau penyok.
Setelah berhasil membeli mobil bekas yang sudah tua, lagi-lagi saya belum puas.
Saya ingin punya mobil baru yang mewah, karena ternyata mobil adalah identitas saya, menentukan status sosial saya, sementara mobil tua seringkali bikin saya susah, mogoklah, atau sering pula menguras isi dompet karena banyak suku cadang yang mesti diganti.
Begitulah, saya tak pernah benar-benar puas.
Menginginkan sesuatu, dan setelah memperolehnya saya pun menginginkan yang lebih.

Kalau hal ini tidak saya kendalikan, bisa-bisa saya punya keinginan punya isteri baru, rumah baru, dan kedudukan yang lebih tinggi, dan sebagainya.
Salahkah saya jika berkeinginan untuk meningkatkan kualitas hidup saya, mengangkat harkat dan martabat saya?
Saya tidak menemukan larangan akan hal ini di dalam Injil.
Tetapi saya menemukan bahwa yang mesti ditingkatkan adalah kualitas secara rohani, bukan materi.
"Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.  Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” [Mat 6:19,33]

Minggu, 7 September 2014.

Mat 18:15-20
Saling Menolong Satu Sama Lain

Rupanya belum cukup kalau kita menjadikan diri kita baik.
Kita juga wajib membantu orang lain menjadi baik.
Di lingkungan keluarga, kita wajib membantu anggota keluarga lainnya untuk menjadi baik.
Di lingkungan pekerjaan pun hal yang sama diberlakukan.
Karyawan yang melakukan kesalahan, ditegur agar ia tidak mengulangi kesalahannya.

Bacaan Injil hari ini mengingatkan kita untuk menerapkan eskalasi dalam menegur orang lain.
Mula-mula dilakukan secara empat-mata, lalu ditingkatkan dengan melibatkan orang lain setelah upaya yang pertama gagal.   Begitu seterusnya.
Di perusahaan pun diberlakukan hal yang sama, mulai dari SP1, SP2, SP3 dan PHK.
PHK yang dimaksud Yesus adalah “Pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah.”

Yesus tidak berbicara tentang “menghukum” orang lain yang berbuat salah.
Yesus berbicara tentang bagaimana mendapatkan kembali orang yang terpisahkan karena telah berbuat kesalahan.
Dengan kata lain, bagaimana membantu orang lain untuk kembali.

Kita sering merasa jengkel, bahkan terkadang marah, ketika mengetahui ada anggota keluarga kita yang berbuat salah.
Kita merasa pantas untuk marah, lalu memarahinya dengan perkataan atau perbuatan yang justru menyakiti hatinya.
Menyakiti orang lain, sekali pun tidak secara fisik, adalah tindakan yang berlawanan dengan ajaran Yesus.
Yesus mau agar kita mengasihi musuh-musuh kita, apalagi anggota keluarga kita sendiri.

Dalam keadaan jengkel atau marah, saya tidak mau mengambil tindakan apa pun kecuali berusaha meredakan kemarahan atau kejengkelan saya itu.
Setelah dalam keadaan tenang barulah saya berpeluang untuk membantu orang lain menjadi baik.
Meredakan kemarahan tidak bisa dilakukan dengan memendamnya di dalam hati, karena itu bisa berakibat buruk bagi kesehatan kita.
Empati adalah cara yang ampuh untuk meredakan kemarahan.
Kita mencari tahu mengapa orang itu melakukan kesalahan, apa yang menjadi latar belakangnya.
Kalau kita berada di posisi orang itu, mampukah kita menghindari diri dari perbuatan salah?
Bukankah orang lain akan menumpahkan kemarahan atau kejengkelannya kepada kita?
Adakah orang lain yang akan membantu kita untuk “kembali”, meloloskan diri dari perbuatan salah itu?
Inilah yang dikehendaki Yesus, bahwa kita mesti saling menolong satu dengan yang lainnya, saling menjadikan baik satu sama lainnya.

Rabu, 20 Agustus 2014.

Mat 20:1-16a
Apakah Kita Irihati Pada Sesama?

Bacaan Injil hari ini adalah salah satu bacaan favorit saya.
Saya membayangkan bagaimana perasaan saya, setelah bekerja sehari suntuk lalu  mengetahui ada orang lain yang hanya bekerja satu-dua jam saja tetapi menerima upah yang sama dengan saya.
Saya membayangkan saya bekerja di suatu perusahaan, bekerja dengan rajin dan tanpa lelah, tetapi menerima gaji yang sama dengan orang yang malas bekerja dan sering bolos.
Saya membayangkan memiliki atasan yang bisanya main perintah tetapi tidak mengerjakan apa-apa.
Pantaskah kalau kemudian saya merasa telah dicurangi, merasa mendapat perlakuan yang tidak adil?
Lumrah kalau timbul perasaan seperti itu.
Tetapi coba kita simak apa tindakan kita selanjutnya setelah itu?
Apakah kita akan ikut-ikutan malas bekerja supaya adil?
Jika ini yang kita lakukan, bukankah sesungguhnya kita menjadi sama saja dengan orang yang kita anggap tidak benar itu?
Atau kita akan protes menuntut gaji yang lebih besar?
Bukankah perusahaan telah membayar saya sesuai dengan kesepakatan?
Pantaskah saya menuntut lebih gara-gara ada karyawan lain yang menerima lebih tetapi kurang dalam memberi?

Pemilik kebun pada bacaan hari ini telah melakukan perbuatan baik, memberi pekerjaan kepada orang-orang yang menganggur lalu memberi upah atas pekerjaannya itu.
Maka menjadi malulah kita ketika pemilik kebun itu bertanya kepada kita, “Iri hatikah engkau karena aku murah hati?”

Tak dapat dipungkiri kalau kita lebih senang mencari-cari kesalahan atau kekurangan orang lain, seperti kita memprotes orang yang hanya bekerja satu-dua jam itu.
Lalu kita pun akhirnya menjadi buta, tak mampu melihat kebaikan yang telah dilakukan oleh pemilik kebun itu.
Nah, kini saatnya bagi kita untuk menentukan kacamata mana yang hendak kita pakai untuk melihat orang lain, apakah menggunakan kacamata untuk melihat kekurangan atau keburukan orang lain ataukah kacamata untuk melihat perbuatan baik yang dilakukan orang?
Melihat keburukan orang akan menjadikan kita buruk, melihat kebaikan orang akan membuat kita menjadi baik.

Sabtu, 2 Agustus 2014.

Mat  14:1-12
Membangun Iman, Membangun Kesadaran Diri

Bacaan Injil hari ini telah mengingatkan saya akan pentingnya selalu menjaga kesadaran diri, terutama di saat-saat senang, agar jangan sampai kegembiraan yang berlebihan akan membuat kita meninggalkan kesadaran diri kita.
Godaan utama yang bisa meruntuhkan kesadaran diri justru muncul dari hal-hal yang menyenangkan, dalam arti kesenangan duniawi.
Herodes menjadikan kepala Yohanes Pembaptis sebagai hadiah atau uang tip karena larut dalam kegembiraan pada pesta ulang tahunnya, karena ia telah kehilangan kesadaran dirinya.

Celakanya, orang yang kehilangan kesadaran dirinya seringkali merasa dirinya sadar, padahal tidak.
Memang betul ia tidak pingsan, tetapi sesungguhnya ia telah lupa diri, lalu kemudian menjadi lupa daratan.
Penyakit ini sulit disembuhkan, dan tidak mengenal gender, walaupun tak dapat disangkal, kaum lelaki yang lebih banyak terjangkit.

Orang yang lupa diri, sangat mungkin ia juga melupakan orang-orang yang ada di sekitarnya, melupakan isteri dan anak-anaknya.
Herodes ingat bahwa ia adalah raja, yang boleh berbuat apa saja semaunya, dan itu telah membuatnya lupa diri, lalu semua tindak tanduknya menjadi lupa daratan.
Begitu mudah ia memerintahkan untuk membunuh semua bayi laki-laki yang lahir di Betlehem, hanya gara-gara paranoid terhadap nubuat akan kelahiran Sang Mesias.
Nyawa Yohanes Pembaptis, yang notabene adalah nabi besar, seolah-olah tak ada artinya sama sekali.

Kesadaran diri menjadi penting kalau kita ingin agar hidup kita ini bernilai dan berkualitas, terutama kualitas yang diukur secara rohani.
Dalam keadaan sadar, mudah bagi kita untuk memahami bahwa berbuat jahat itu dosa, dan akhirnya mudah juga bagi kita untuk menghindari perbuatan itu.
Dalam keadaan tidak sadar atau lupa dirilah godaan dan cobaan iblis akan mudah menguasai hati dan pikiran kita.

Lupa diri tidak semata-mata disebabkan oleh minuman yang berakohol, atau oleh lingkungan yang tidak menunjang, atau oleh pengaruh dan bujuk rayu orang lain, atau oleh perangkap iblis.
Penyebab utamanya adalah karena lemahnya iman kita.
Inilah alasannya mengapa saya secara terus-menerus membangun iman saya, apalagi setelah saya menyadari bahwa iman saya itu masih sangat lemah.
Masih ada kesempatan bagi saya untuk membangun iman yang unggul, yang tak lapuk dimakan usia, yang justru akan semakin kokoh setelah mengalami berbagai tempaan hidup.

Selasa, 15 juli 2014.

Mat  11:20-24
Teguran Yang Mengingatkan

Cerewet itu identik dengan banyak ngomong atau bawel.
Orang-orang maskulin biasanya kurang menyukainya.
Saya dahulu juga begitu, merasa terganggu kalau isteri banyak berbicara hal-hal yang menurut saya sepele, tetapi lalu dibesar-besarkan.
Ada saja yang bisa dijadikan bahan pembicaraan, padahal menurut saya masih banyak hal lain yang lebih penting untuk dibicarakan.
Anak-anak saya termasuk yang banyak bertanya, dan terasa cukup mengganggu saya.
Yang tak kalah bawelnya adalah laptop saya, terlalu banyak pop-up reminder yang akhirnya malah mengganggu.
Setiap kali saya merasa terganggu, saya menunjukkan perasaan tidak senang, dan itu membuat isteri dan anak-anak saya jadi takut ngomong.
Mungkin baiknya saya menikah dengan patung saja, punya anak patung semua, agar tak terganggu.

Anehnya, dan ini benar-benar aneh.
Saya malah memelihara burung, yang kalau tak berkicau saya malah kebingungan sendiri.
Lalu saya juga memelihara anjing, yang kalau menggonggong suaranya keras sekali.
Yang terganggu oleh gonggongannya bukan hanya se isi rumah, tetapi juga para tetangga.
Mengapa saya malah senang dengan kicauan burung atau gonggongan anjing?
Mengapa saya tidak merasa terganggu?

Sesungguhnya saya ini egois, hanya mau mendengar apa yang memang ingin saya dengar.
Yang masalah ternyata bukan bawelnya, melainkan karena yang disampaikan itu bukan yang ingin saya dengar.
Saya tidak pernah mencoba untuk introspeksi, jangan-jangan saya malah lebih bawel dari mereka.
Rasa-rasanya, kalau mereka ngomong satu kalimat, saya bisa membalasnya berlipat-lipat.
Sebagai kepala keluarga, seharusnya saya bisa melihat bahwa ini tidak adil bagi mereka.

Ketika tiba saatnya saya sering bepergian ke luar kota karena urusan pekerjaan, saya meninggalkan keluarga di rumah.
Pada awalnya hal ini tidak menjadi masalah.
Kesibukan pekerjaan malah membuat saya melupakan mereka yang saya tinggalkan di rumah.
Sampai pada suatu ketika, entah dari mana asalnya, saya merasa begitu rindu akan “kicauan” isteri dan anak-anak saya.
Rasanya ingin cepat-cepat pulang.
Ini pasti karena Yesus telah menegur saya, sama seperti Yesus menegur orang-orang di kota-kota yang tidak mau bertobat itu.

Lalu apa yang saya dapati?
Selama bertahun-tahun isteri saya mesti mendengarkan saya mengorok keras saat tidur.
Tak jarang pula saya ngelindur, terkadang berteriak-teriak, dan itu jelas membuat isteri saya kaget dan terbangun dari tidurnya.
Dan masih banyak hal lain yang dipaparkan di hadapan saya, yang membuat saya menjadi malu dan merasa bersalah.
Saya mudah melihat selumbar di mata mereka, tetapi balok besar di mata saya sendiri tak nampak.
Terimakasih, Tuhan.
Saya masih mendapat kesempatan untuk memperbaiki hal-hal buruk yang telah saya lakukan bertahun-tahun itu.
Saya masih mendapat kesempatan untuk menjadi suami yang lebih baik, menjadi ayah yang lebih baik, bagi mereka yang sangat saya cintai itu.

Kamis, 26 Juni 2014.

Mat 7:21-29
“Membangun dasar Iman”
Membangun iman ibarat membangun rumah, dimana dasar yang digunakan merupakan hal penting untuk menopang segala yang ada di atasnya.
Membangun rumah di atas batu lebih sulit ketimbang membangun di atas pasir.
Anak-anak yang bermain pasir di pantai, cukup dengan tangannya sendiri ia bisa membuat lubang di pasir.
Hal yang sama tidak dapat dilakukan pada batu.
Membuat lubang pada batu membutuhkan kerja keras.
Kerja keras untuk membangun rumah di atas batu tidaklah sia-sia karena akan menghasilkan rumah yang kokoh.

Kesempatan emas untuk meletakkan dasar iman adalah ketika manusia lahir sampai berusia tiga tahun.
Pada waktu itu, batu belumlah mengeras sehingga menjadi jauh lebih mudah untuk dibangun.
Itu artinya orangtua sangat berperan dalam membangun iman anak.
Pada umumnya anak akan memeluk agama yang sama dengan orangtuanya, karena peran orangtua dalam meletakkan dasar-dasar iman bagi anak-anaknya.

Lalu bagaimana kalau kita menyadari hal ini setelah kita besar?
Apakah artinya kita telah terlambat membangun dasar iman itu?
Saya pernah terlibat dalam kegiatan sosial.
Sasarannya adalah sebuah rumah yang dibangun tanpa fondasi yang kuat, sehingga membahayakan orang yang tinggal di rumah itu.
Bersyukur sejak rumah itu dibangun belum pernah terjadi gempa yang cukup kuat sehingga rumah itu masih tetap berdiri, tetapi di bawah bayang-bayang ketakutan untuk menempatinya.
Mulanya saya kira rumah itu akan dirobohkan untuk dibangun kembali dengan fondasi baru, tetapi ternyata tidak.
Seorang yang mengerti urusan bangunan mengkomandoi para pekerja untuk “mengangkat” rumah itu, membangun fondasi batu lalu meletakkan kembali rumah itu di atasnya.

Jadi, sesungguhnya tidak ada kata “terlambat” dalam membangun dasar iman, sekali pun memang mesti diakui menjadi lebih sulit setelah orang tumbuh dewasa.
Kuncinya adalah kesungguhan dalam niat untuk membangunnya.
Kita mengetahui sesuatu yang tak sulit bagi kita bukan yang sulit bagi Tuhan, sesuatu yang tak mungkin bagi kita adalah mungkin bagi Tuhan.

Niat yang sungguh akan timbul setelah kita menyadari akan bahaya memiliki dasar iman yang kurang kokoh.
Ibarat rumah yang dibangun di atas pasir, akan roboh dan hebatlah kerusakannya ketika angin kencang dan banjir datang melanda.