Mat 7:21-29
“Membangun dasar Iman”
Membangun iman ibarat membangun rumah, dimana dasar yang digunakan merupakan hal penting untuk menopang segala yang ada di atasnya.
Membangun rumah di atas batu lebih sulit ketimbang membangun di atas pasir.
Anak-anak yang bermain pasir di pantai, cukup dengan tangannya sendiri ia bisa membuat lubang di pasir.
Hal yang sama tidak dapat dilakukan pada batu.
Membuat lubang pada batu membutuhkan kerja keras.
Kerja keras untuk membangun rumah di atas batu tidaklah sia-sia karena akan menghasilkan rumah yang kokoh.
Kesempatan emas untuk meletakkan dasar iman adalah ketika manusia lahir sampai berusia tiga tahun.
Pada waktu itu, batu belumlah mengeras sehingga menjadi jauh lebih mudah untuk dibangun.
Itu artinya orangtua sangat berperan dalam membangun iman anak.
Pada umumnya anak akan memeluk agama yang sama dengan orangtuanya, karena peran orangtua dalam meletakkan dasar-dasar iman bagi anak-anaknya.
Lalu bagaimana kalau kita menyadari hal ini setelah kita besar?
Apakah artinya kita telah terlambat membangun dasar iman itu?
Saya pernah terlibat dalam kegiatan sosial.
Sasarannya adalah sebuah rumah yang dibangun tanpa fondasi yang kuat, sehingga membahayakan orang yang tinggal di rumah itu.
Bersyukur sejak rumah itu dibangun belum pernah terjadi gempa yang cukup kuat sehingga rumah itu masih tetap berdiri, tetapi di bawah bayang-bayang ketakutan untuk menempatinya.
Mulanya saya kira rumah itu akan dirobohkan untuk dibangun kembali dengan fondasi baru, tetapi ternyata tidak.
Seorang yang mengerti urusan bangunan mengkomandoi para pekerja untuk “mengangkat” rumah itu, membangun fondasi batu lalu meletakkan kembali rumah itu di atasnya.
Jadi, sesungguhnya tidak ada kata “terlambat” dalam membangun dasar iman, sekali pun memang mesti diakui menjadi lebih sulit setelah orang tumbuh dewasa.
Kuncinya adalah kesungguhan dalam niat untuk membangunnya.
Kita mengetahui sesuatu yang tak sulit bagi kita bukan yang sulit bagi Tuhan, sesuatu yang tak mungkin bagi kita adalah mungkin bagi Tuhan.
Niat yang sungguh akan timbul setelah kita menyadari akan bahaya memiliki dasar iman yang kurang kokoh.
Ibarat rumah yang dibangun di atas pasir, akan roboh dan hebatlah kerusakannya ketika angin kencang dan banjir datang melanda.
“Membangun dasar Iman”
Membangun iman ibarat membangun rumah, dimana dasar yang digunakan merupakan hal penting untuk menopang segala yang ada di atasnya.
Membangun rumah di atas batu lebih sulit ketimbang membangun di atas pasir.
Anak-anak yang bermain pasir di pantai, cukup dengan tangannya sendiri ia bisa membuat lubang di pasir.
Hal yang sama tidak dapat dilakukan pada batu.
Membuat lubang pada batu membutuhkan kerja keras.
Kerja keras untuk membangun rumah di atas batu tidaklah sia-sia karena akan menghasilkan rumah yang kokoh.
Kesempatan emas untuk meletakkan dasar iman adalah ketika manusia lahir sampai berusia tiga tahun.
Pada waktu itu, batu belumlah mengeras sehingga menjadi jauh lebih mudah untuk dibangun.
Itu artinya orangtua sangat berperan dalam membangun iman anak.
Pada umumnya anak akan memeluk agama yang sama dengan orangtuanya, karena peran orangtua dalam meletakkan dasar-dasar iman bagi anak-anaknya.
Lalu bagaimana kalau kita menyadari hal ini setelah kita besar?
Apakah artinya kita telah terlambat membangun dasar iman itu?
Saya pernah terlibat dalam kegiatan sosial.
Sasarannya adalah sebuah rumah yang dibangun tanpa fondasi yang kuat, sehingga membahayakan orang yang tinggal di rumah itu.
Bersyukur sejak rumah itu dibangun belum pernah terjadi gempa yang cukup kuat sehingga rumah itu masih tetap berdiri, tetapi di bawah bayang-bayang ketakutan untuk menempatinya.
Mulanya saya kira rumah itu akan dirobohkan untuk dibangun kembali dengan fondasi baru, tetapi ternyata tidak.
Seorang yang mengerti urusan bangunan mengkomandoi para pekerja untuk “mengangkat” rumah itu, membangun fondasi batu lalu meletakkan kembali rumah itu di atasnya.
Jadi, sesungguhnya tidak ada kata “terlambat” dalam membangun dasar iman, sekali pun memang mesti diakui menjadi lebih sulit setelah orang tumbuh dewasa.
Kuncinya adalah kesungguhan dalam niat untuk membangunnya.
Kita mengetahui sesuatu yang tak sulit bagi kita bukan yang sulit bagi Tuhan, sesuatu yang tak mungkin bagi kita adalah mungkin bagi Tuhan.
Niat yang sungguh akan timbul setelah kita menyadari akan bahaya memiliki dasar iman yang kurang kokoh.
Ibarat rumah yang dibangun di atas pasir, akan roboh dan hebatlah kerusakannya ketika angin kencang dan banjir datang melanda.