Kamis, 26 Juni 2014.

Mat 7:21-29
“Membangun dasar Iman”
Membangun iman ibarat membangun rumah, dimana dasar yang digunakan merupakan hal penting untuk menopang segala yang ada di atasnya.
Membangun rumah di atas batu lebih sulit ketimbang membangun di atas pasir.
Anak-anak yang bermain pasir di pantai, cukup dengan tangannya sendiri ia bisa membuat lubang di pasir.
Hal yang sama tidak dapat dilakukan pada batu.
Membuat lubang pada batu membutuhkan kerja keras.
Kerja keras untuk membangun rumah di atas batu tidaklah sia-sia karena akan menghasilkan rumah yang kokoh.

Kesempatan emas untuk meletakkan dasar iman adalah ketika manusia lahir sampai berusia tiga tahun.
Pada waktu itu, batu belumlah mengeras sehingga menjadi jauh lebih mudah untuk dibangun.
Itu artinya orangtua sangat berperan dalam membangun iman anak.
Pada umumnya anak akan memeluk agama yang sama dengan orangtuanya, karena peran orangtua dalam meletakkan dasar-dasar iman bagi anak-anaknya.

Lalu bagaimana kalau kita menyadari hal ini setelah kita besar?
Apakah artinya kita telah terlambat membangun dasar iman itu?
Saya pernah terlibat dalam kegiatan sosial.
Sasarannya adalah sebuah rumah yang dibangun tanpa fondasi yang kuat, sehingga membahayakan orang yang tinggal di rumah itu.
Bersyukur sejak rumah itu dibangun belum pernah terjadi gempa yang cukup kuat sehingga rumah itu masih tetap berdiri, tetapi di bawah bayang-bayang ketakutan untuk menempatinya.
Mulanya saya kira rumah itu akan dirobohkan untuk dibangun kembali dengan fondasi baru, tetapi ternyata tidak.
Seorang yang mengerti urusan bangunan mengkomandoi para pekerja untuk “mengangkat” rumah itu, membangun fondasi batu lalu meletakkan kembali rumah itu di atasnya.

Jadi, sesungguhnya tidak ada kata “terlambat” dalam membangun dasar iman, sekali pun memang mesti diakui menjadi lebih sulit setelah orang tumbuh dewasa.
Kuncinya adalah kesungguhan dalam niat untuk membangunnya.
Kita mengetahui sesuatu yang tak sulit bagi kita bukan yang sulit bagi Tuhan, sesuatu yang tak mungkin bagi kita adalah mungkin bagi Tuhan.

Niat yang sungguh akan timbul setelah kita menyadari akan bahaya memiliki dasar iman yang kurang kokoh.
Ibarat rumah yang dibangun di atas pasir, akan roboh dan hebatlah kerusakannya ketika angin kencang dan banjir datang melanda.

Minggu, 8 Juni 2014.

Yoh 20:19-23
“Terimalah Roh Kudus”
Setelah Yesus disalibkan, para murid Yesus menjadi ketakutan.
Mereka berkumpul di dalam rumah dengan pintu yang terkunci rapat.
Mereka takut orang-orang akan mencari mereka, dan bisa jadi juga akan disalibkan seperti Yesus.
Iman mereka goyah, tak menyangka Yesus bisa disalibkan, wafat di kayu salib.
Yesus telah tiada, dan tak ada lagi yang bisa mereka handalkan.

Dalam keadaan tertekan dan penuh ketakutan itu, Yesus muncul di hadapan mereka sambil berkata, "Damai sejahtera bagi kamu!   Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu."
Yesus menepati janji-Nya, akan menyertai mereka sampai selama-lamanya.
Yesus tidak meninggalkan mereka.
Lalu Yesus menghembusi mereka sambil berkata, “Terimalah Roh Kudus!”
Segera setelah itu ketakutan pada murid itu menjadi sirna, diganti oleh keberanian yang luarbiasa.
Banyak yang akhirnya menjadi martir, wafat karena membela nama Yesus.
Tetapi mereka wafat tidak di bawah bayang-bayang ketakutan.

Ketika saya masih di kelas 2 SD, terjadi huru-hara besar, pemberontakan yang dikenal dengan “Gerakan 30 September”.
Ayah saya dituduh sebagai “antek-antek”, bukan karena perbuatannya melainkan karena warna kulitnya yang tidak sawo-matang.
Pada waktu itu begitu banyak orang dibunuh.
Kami tentu saja menjadi sangat ketakutan.
Hampir setiap hari, dari dalam rumah kami mendengar suara tembakan bertalu-talu.
Ibu saya memeluk saya, mengajak bersembunyi di bawah meja makan.

Kejadian itu telah membuat saya dapat memahami ketakutan para murid Yesus itu, bagaimana rasanya berada di bawah bayang-bayang ketakutan.
Sekarang, issue etnis itu telah jauh mereda.
Etnis kami telah diakui sama seperti etnis-etnis lainnya.
Inilah pencurahan Roh Kudus yang telah kami terima dengan perantaraan Yesus Kristus.
Yesus tidak meninggalkan kami, kebenaran pun dinyatakan pada kesudahannya.

Sesungguhnya Tuhan tidak meniadakan kesusahan kita, melainkan mendampingi kita untuk mengatasi kesusahan itu.
Roh Kuduslah yang menyertai kita, yang memampukan kita untuk mengatasi berbagai kesulitan hidup itu.
Oleh karenanya, terimalah Roh Kudus.
Biarlah Roh itu berada di dalam hati kita.
Roh itulah yang akan senantiasa menyertai kita.
Roh itu juga yang akan mengingatkan kita untuk tidak menyimpang dari kehendak Bapa di Surga.
Dengan demikian menjadi langgenglah persekutuan kita dengan Bapa di Surga.