Kamis, 20 Februari 2014.

Mrk 8:27-33
"Siapakah aku ini?"

Laki-laki memang lebih maskulin dan wanita lebih feminim.
Tuhan memang menciptakan pria yang berbeda dari wanita, agar keduanya saling melengkapi.
Artinya kelebihan yang satu digunakan untuk menutupi kekurangan yang lain.
Dalam perjalanan hidup, laki-laki kemudian memahami maskulin sebagai keunggulan fisik, lalu mengubahnya menjadi arogansi, barangkali karena itulah satu-satunya kelebihan yang dimilikinya.
Tetapi ada juga laki-laki yang tidak menjadi lelaki, bertekuk-lutut di bawah kaki wanita.
Di luar ia adalah “macan yang garang”, tetapi di rumah ia hanyalah kucing yang sangat jinak.

Ketika kita ditanya, “Siapakah aku ini?” dalam konteks gender, mampukah kita menjawab dengan baik?
Mampukah kita membangkitkan sifat gentlemen yang menjadi kebanggaan kaum pria itu?
Paradigma yang mengatakan bahwa pria dan wanita itu sama saja, telah mengaburkan sifat-sifat maskulin dan feminim itu, telah membuat orang kesulitan untuk menemukan gender-nya yang sejati.
Perbedaan gender itu sudah ada sejak pertama kali Tuhan menciptakan manusia, tidak untuk disama-samakan, tetapi untuk dipadukan menjadi pasangan.   Yang namanya pasangan, seperti sepasang sepatu misalnya, maka akan disebut sepasang jika ada sepatu kiri dan sepatu kanan.   Manalah bisa memakai sepatu yang keduanya kiri atau keduanya kanan?
Apa iya, sesekali kita ingin menggantikan istri kita, mengandung dan melahirkan anak?

Menyadari “Siapakah aku ini?” dalam kaitannya dengan gender merupakan hal penting guna menghindari salah-kaprah yang selama ini banyak terjadi.
Hanya dengan demikian kaum lelaki akan menyadari kebutuhannya akan pasangan, tidak bisa berjalan sendiri.
Marilah kita menggali diri untuk menemukan hal-hal yang maskulin dan gentlemen yang secara kodrat merupakan sifat khas dari seorang pria, agar kita bisa menjadi pria yang sejati, yaitu pria yang menjadi idaman kaum hawa.

Minggu, 2 Februari 2014.

Luk 2:22-40
"Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah."

Sesekali saya tergoda untuk bersyukur saya terlahir sebagai laki-laki.    Yesus dan juga para rasul, semuanya lelaki.
Paus, Uskup dan pastor juga laki-laki.
Negara jaman dahulu disebut “kerajaan”, tidak disebut “keratuan”, karena pemimpinnya adalah raja, seorang laki-laki.
Pada bacaan hari ini juga kita membaca, "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah."
Mengapa laki-laki dan mengapa hanya yang sulung saja yang perlu dikuduskan?
Menurut hukum Taurat, anak laki-laki sulung wajib dipersembahkan kepada Allah, untuk melayani dan memuliakan Allah dengan pengabdian sepenuhnya, tetapi bisa ditebus dengan mempersembahkan 5 sikel untuk kenisah.

Yesus datang untuk menggenapi yang masih kurang, untuk memperbaharui yang sudah usang.
“Anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya." (Mat 9:17)
Menurut kantong yang baru, laki-laki atau perempuan, sulung atau tidak sulung, adalah sama di mata Tuhan.
Tetapi jika kita tetap berkeinginan memelihara kantong yang lama, maka laki-laki seyogyanya menjadi kudus terlebih dahulu sehingga ia bisa membawa kekudusan bagi wanita.

Inikah yang sekarang ini terjadi?
Cobalah hitung jumlah laki-laki yang hadir di gereja atau di pertemuan lingkungan, bukankah masih lebih banyak wanita dan anak-anak?   Bukankah laki-laki wajib menjadi penggerak kekudusan?