Minggu, 2 Februari 2014.

Luk 2:22-40
"Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah."

Sesekali saya tergoda untuk bersyukur saya terlahir sebagai laki-laki.    Yesus dan juga para rasul, semuanya lelaki.
Paus, Uskup dan pastor juga laki-laki.
Negara jaman dahulu disebut “kerajaan”, tidak disebut “keratuan”, karena pemimpinnya adalah raja, seorang laki-laki.
Pada bacaan hari ini juga kita membaca, "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah."
Mengapa laki-laki dan mengapa hanya yang sulung saja yang perlu dikuduskan?
Menurut hukum Taurat, anak laki-laki sulung wajib dipersembahkan kepada Allah, untuk melayani dan memuliakan Allah dengan pengabdian sepenuhnya, tetapi bisa ditebus dengan mempersembahkan 5 sikel untuk kenisah.

Yesus datang untuk menggenapi yang masih kurang, untuk memperbaharui yang sudah usang.
“Anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya." (Mat 9:17)
Menurut kantong yang baru, laki-laki atau perempuan, sulung atau tidak sulung, adalah sama di mata Tuhan.
Tetapi jika kita tetap berkeinginan memelihara kantong yang lama, maka laki-laki seyogyanya menjadi kudus terlebih dahulu sehingga ia bisa membawa kekudusan bagi wanita.

Inikah yang sekarang ini terjadi?
Cobalah hitung jumlah laki-laki yang hadir di gereja atau di pertemuan lingkungan, bukankah masih lebih banyak wanita dan anak-anak?   Bukankah laki-laki wajib menjadi penggerak kekudusan?

No comments:

Post a Comment