Jumat, 28 Maret 2014.

Mrk 12:28b-34
"Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!"
Sebagai lelaki, sebagai suami dan sebagai ayah, adalah kehormatan bagi saya menjadi tulang-punggung bagi keluarga saya, mencari nafkah untuk menghidupi keluarga saya.
Lalu saya pun menghabiskan hampir seluruh waktu saya untuk bekerja, hanya sedikit yang tersisa untuk istri dan anak-anak saya.

Kami dikaruniai empat anak.
Setiap kali istri saya mengandung, ia mesti mengantri di praktek dokter untuk memeriksakan kandungannya. Karena dokternya terkenal, banyak oranglah yang mengantri menunggu giliran, bisa mengantri sampai dua jam lebih.
Saya berpikir betapa sia-sianya waktu menunggu giliran itu, lalu saya memutuskan istri saya diantar supir saja agar saya bisa memanfaatkan waktu tunggu itu untuk keperluan lain yang lebih bermanfaat.
Menurut saya, ini keputusan logis dan rasional.

Itu terjadi ketika saya masih mengandalkan kecongkakan saya, merasa diri mampu serta mengandalkan akal budi sendiri untuk memutuskan dan bertindak.
Tetapi ketika Tuhan memanggil saya untuk suatu pertobatan, Tuhan membukakan mata hati saya untuk mampu melihat apa yang tak mampu saya lihat melalui kecongkakan saya itu.
Akhirnya saya dimampukan untuk melihat, betapa kesedihan yang mendalam dialami istri saya setiap kali ia datang ke tempat praktek dokter itu.
Ketika ia menoleh ke kiri dan kanan, dilihatnya ibu-ibu hamil yang didampingi oleh suaminya, sementara istri saya tak mungkin meminta supir untuk duduk di sebelahnya.
Istri saya sedih dengan kesendiriannya, terlebih ketika namanya dipanggil untuk masuk ke ruang praktek, dokter selalu bertanya, “Mana suaminya?” dengan tatapan mata penuh selidik, jangan-jangan janin bayi di kandungan istri saya itu tak ada ayahnya.
Ya Tuhan, betapa congkaknya saya sehingga tak mampu melihat kebutuhan istri saya sendiri, kebutuhan yang hanya bisa di dapat dari saya, tidak mungkin dari orang lain.
Inilah karunia Tuhan yang sangat berharga bagi saya.   Tuhan mengijinkan saya berada dekat-dekat dengan-Nya, sehingga membuat saya menjadi lebih dewasa dalam hal iman, membuat saya mampu melihat dengan mata hati saya, yakni melihat apa yang tak mampu saya lihat dengan mata kepala sendiri.



Senin, 10 Maret 2014.

Mat 25:31-46
“Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”
Segera setelah menyelesaikan kuliah, saya kembali ke Bali untuk memulai usaha di bidang komputer.
Di samping mengelola kursus komputer, saya juga membuat software yang waktu itu masih langka.
Waktu bioritmik saya adalah malam menjelang dini hari. 
Saya bergadang semalaman menyusun program komputer.
Setiap jam 2 dini hari, saudara Made, office boy kantor, bangun untuk menyiapkan kopi bagi saya.
Saya menangkap kesetiaan dan ketulusan dari Made si office boy itu.
Ia tak sekali pun mempermasalahkan soal lembur. 
Ia hanya tahu bekerja dan bekerja.
Di lihat dari struktur organisasi, jabatan office boy itu berada di bagian bawah, yang oleh kebanyakan orang dianggap sebagai jabatan rendah atau bahkan hina.
Tetapi di mata saya, Made adalah tenaga kerja yang mesti saya apresiasi se tinggi-tingginya.
Saya mesti membalas kebaikan yang merupakan anugerah bagi saya itu.
Terlebih lagi dari Injil hari ini saya mengetahui bahwa sesungguhnya yang saya lakukan itu untuk Tuhan Yesus.
Lalu saya memanggilnya dan berkata, “Made, maukah kamu kalau kita membuat perjanjian? 
Bahwa saya akan bersama-sama kamu kelak ketika kita sudah sukses, dan bersama-sama pula di saat susah?”

Sekarang, setelah lebih dari 25 tahun berlalu, Made telah menjadi manager penting di perusahaan kami.
Made merasa bahwa saya telah mengubah “nasib”-nya, padahal itu tidak sepenuhnya benar.
Ia sendirilah yang telah membuat dirinya berhasil.
Dan saya, pertama-tama saya lakukan untuk Tuhan, melalui orang-orang yang dipandang rendah.
Selanjutnya, saya juga telah menerima “upah” dari apa yang saya lakukan itu.
Berbahagialah kita yang mampu melihat orang bukan dari kedudukannya, bukan dari status sosialnya, melainkan dari iman dan kepribadiannya.