Rabu, 21 Mei 2014.

Yoh 15:1-8 “Jadilah ranting yang subur”
Yesus mengumpamakan diri-Nya sebagai Pokok Anggur, yang ditanam di kebun, bukan tumbuhan liar.
Agar menghasilkan buah, pokok anggur membutuhkan ranting karena pada ranting anggurlah akan dihasilkan bunga anggur yang selanjutnya akan menjadi buah.
Melalui perumpamaan ini, Yesus menawarkan kepada kita, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.”
Tujuannya jelas, supaya kita tidak menjadi ranting kering, melainkan menjadi ranting yang subur. Ranting tak dapat berbuat apa-apa jika tidak berada pada batang pokoknya.
Ranting yang kering akan dipotong lalu dicampakkan ke dalam api untuk dibakar.

Menarik untuk kita simak lebih jauh bahwa ranting itu tidak berjenis kelamin.
Tidak ada ranting laki-laki atau wanita.
Artinya, baik laki-laki maupun wanita, sama-sama membutuhkan Sang Pokok Anggur itu.
Malu juga saya ketika menyadari lebih banyak wanita yang datang ke gereja atau ke pertemuan lingkungan, seolah-olah wanita lebih membutuhkan pokok anggur ketimbang laki-laki.
Kualitas ranting jelas tidak ditentukan dari gender, melainkan dari seberapa banyak buah yang dihasilkan serta seberapa lezat buah yang dihasilkan itu.

Dahulu saya pernah membuat kesepakatan dengan isteri.
Saya mengurusi urusan horisontal, mencari nafkah, sementara isteri mengurusi urusan vertikal, berhubungan dengan kegiatan gereja dan pelayanan.
Setelah kesepakatan itu kami jalankan selama beberapa tahun, saya pun akhirnya menjadi ranting yang kering karena berada jauh dari pokok anggur, dan saya pun tak mampu menghasilkan buah.
Anak-anak kami, satu laki-laki dan empat perempuan, dipaksa untuk memilih apakah akan mengikuti jejak ayahnya atau ibunya.
Jika mengikuti jejak ayahnya, ia akan berpikiran bahwa mencari nafkah itu lebih penting ketimbang berdoa atau datang ke gereja.
Gereja bukan tempat untuk mencari nafkah.
Karena masih kanak-kanak, yang tentunya berpikiran secara kanak-kanak pula, anak-anak kami tidak mampu melihat pentingnya berdoa atau datang ke gereja.
Ya Tuhan, anak-anak kami menjadi korban keputusan orangtuanya.

Kami sampai pada kenyataan, bahwa kami tinggal se rumah tetapi tidak hidup bersama.
Dunia saya adalah dunia bisnis, dunia yang berbeda dengan yang dijalani oleh isteri saya.
Kesepakatan itu pun akhirnya kami batalkan, lalu kami menjalani urusan yang horisontal mau pun yang vertikal secara bersama-sama.
Isteri saya akhirnya memahami seperti apa dunia bisnis itu, dan saya pun mulai belajar untuk menghasilkan buah sebagaimana yang diharapkan Yesus terjadi pada diri saya.

Sabtu, 3 Mei 2014.

Yoh 14:6-14
“Kenalilah orang dekat kita”
Orang yang paling mengenal kita adalah diri kita sendiri.
Kitalah yang paling mengetahui jati diri kita.
Yang kita ketahui bisa jadi berbeda dengan yang diketahui orang lain.
Seringkali orang lain menganggap kita sebagai orang lain, bukan kita yang sesungguhnya, sekali pun orang lain itu adalah orang-orang dekat kita.
Bagaimana jadinya kalau kita sendiri tidak sungguh-sungguh mengenal diri kita sendiri?
Mungkinkah ada orang lain yang lebih mengenal diri kita ketimbang diri kita sendiri?

Orang-orang yang ada di sekitar kita adalah cermin.
Dari merekalah kita dapat berkaca, melihat diri kita sendiri dari luar, seperti apa kita di mata mereka.
Jika cermin itu menunjukkan yang berbeda dengan yang kita ketahui, maka menjadi tugas kita untuk menyamakannya, membuat orang lain bisa melihat kita sama seperti kita melihat diri kita sendiri.

Sebaliknya, jika kita adalah cermin bagi orang-orang di sekitar kita, pantulkanlah yang sama persis dengan yang sesungguhnya ada, sebagaimana yang telah diajarkan Yesus kepada kita, “Katakan iya jika memang iya dan katakan tidak jika memang tidak.“
Tidak jarang, kejujuran dan keterus-terangan bisa membuat tidak enak-hati, tetapi tetap akan lebih baik ketimbang kita melakukan penyesatan, yang kurang kita katakan lebih atau sebaliknya.
Saya sungguh bersyukur telah menjadi tempat bertanya bagi isteri dan anak-anak saya.
Itu terjadi bukan karena saya istimewa, melainkan karena saya senantiasa bertahan pada kejujuran dan keterus-terangan itu, berusaha menjadi cermin yang tidak bias, walaupun itu bisa membuat tidak enak hati, karena umumnya orang berharap akan mendapat jawaban seperti yang diharapkannya, bukan jawaban yang jujur dan terus-terang.
Dengan mengenali mereka saya tahu bagaimana jawaban itu mesti disampaikan, bukan dengan mengabaikan keterus-terangan melainkan dengan cara yang lebih dapat diterima, terutama jika jawaban saya tidak seperti yang diharapkan.
Jangan sampai Yesus menyindir saya, “Sudah sekian lama kamu tinggal dan hidup bersama mereka, tetapi kamu masih saja tidak mengenal mereka.”

Bapa di Surga adalah “orang dekat” saya, setidaknya setiap pagi saya berjumpa dengan-Nya, menyapa-Nya dan bahkan seringkali saya berkeluh-kesah kepada-Nya.
Seringkali pula saya memohon sesuatu kepada-Nya, bahkan terkadang merengek-rengek.
Bagaimana saya bisa mengenali Bapa yang tak kelihatan itu?
Iya, dengan mengenali Putera Tunggal-Nya, Tuhan kita Yesus Kristus.
Yesus telah datang dalam rupa manusia sehingga kita bisa mengenali-Nya dengan baik, melalui kesaksian pada penulis Injil.
Berbeda dengan Bunda Maria, dengan Bapa di Surga saya bisa berbicara sebagai “sesama lelaki”, setidaknya seperti anak laki-laki kepada bapaknya.
Bapa di Surga tahu bagaimana mesti menyampaikan sesuatu yang bisa membuat saya tidak enak hati, sehingga saya tak lagi merasa Bapa tidak mendengarkan saya, melainkan menyadari Bapa telah menyampaikan kejujuran dan keterus-terangan.