Sabtu, 3 Mei 2014.

Yoh 14:6-14
“Kenalilah orang dekat kita”
Orang yang paling mengenal kita adalah diri kita sendiri.
Kitalah yang paling mengetahui jati diri kita.
Yang kita ketahui bisa jadi berbeda dengan yang diketahui orang lain.
Seringkali orang lain menganggap kita sebagai orang lain, bukan kita yang sesungguhnya, sekali pun orang lain itu adalah orang-orang dekat kita.
Bagaimana jadinya kalau kita sendiri tidak sungguh-sungguh mengenal diri kita sendiri?
Mungkinkah ada orang lain yang lebih mengenal diri kita ketimbang diri kita sendiri?

Orang-orang yang ada di sekitar kita adalah cermin.
Dari merekalah kita dapat berkaca, melihat diri kita sendiri dari luar, seperti apa kita di mata mereka.
Jika cermin itu menunjukkan yang berbeda dengan yang kita ketahui, maka menjadi tugas kita untuk menyamakannya, membuat orang lain bisa melihat kita sama seperti kita melihat diri kita sendiri.

Sebaliknya, jika kita adalah cermin bagi orang-orang di sekitar kita, pantulkanlah yang sama persis dengan yang sesungguhnya ada, sebagaimana yang telah diajarkan Yesus kepada kita, “Katakan iya jika memang iya dan katakan tidak jika memang tidak.“
Tidak jarang, kejujuran dan keterus-terangan bisa membuat tidak enak-hati, tetapi tetap akan lebih baik ketimbang kita melakukan penyesatan, yang kurang kita katakan lebih atau sebaliknya.
Saya sungguh bersyukur telah menjadi tempat bertanya bagi isteri dan anak-anak saya.
Itu terjadi bukan karena saya istimewa, melainkan karena saya senantiasa bertahan pada kejujuran dan keterus-terangan itu, berusaha menjadi cermin yang tidak bias, walaupun itu bisa membuat tidak enak hati, karena umumnya orang berharap akan mendapat jawaban seperti yang diharapkannya, bukan jawaban yang jujur dan terus-terang.
Dengan mengenali mereka saya tahu bagaimana jawaban itu mesti disampaikan, bukan dengan mengabaikan keterus-terangan melainkan dengan cara yang lebih dapat diterima, terutama jika jawaban saya tidak seperti yang diharapkan.
Jangan sampai Yesus menyindir saya, “Sudah sekian lama kamu tinggal dan hidup bersama mereka, tetapi kamu masih saja tidak mengenal mereka.”

Bapa di Surga adalah “orang dekat” saya, setidaknya setiap pagi saya berjumpa dengan-Nya, menyapa-Nya dan bahkan seringkali saya berkeluh-kesah kepada-Nya.
Seringkali pula saya memohon sesuatu kepada-Nya, bahkan terkadang merengek-rengek.
Bagaimana saya bisa mengenali Bapa yang tak kelihatan itu?
Iya, dengan mengenali Putera Tunggal-Nya, Tuhan kita Yesus Kristus.
Yesus telah datang dalam rupa manusia sehingga kita bisa mengenali-Nya dengan baik, melalui kesaksian pada penulis Injil.
Berbeda dengan Bunda Maria, dengan Bapa di Surga saya bisa berbicara sebagai “sesama lelaki”, setidaknya seperti anak laki-laki kepada bapaknya.
Bapa di Surga tahu bagaimana mesti menyampaikan sesuatu yang bisa membuat saya tidak enak hati, sehingga saya tak lagi merasa Bapa tidak mendengarkan saya, melainkan menyadari Bapa telah menyampaikan kejujuran dan keterus-terangan.

No comments:

Post a Comment