Selasa, 15 April 2014.

Yoh 13:21-33.36-38
“Berani Menghadapi Hidup”

Rasul Petrus terkenal berani.
Tanpa ragu Petrus menunjukkan loyalitasnya kepada Yesus.
Pada perjamuan makan malam itu, Petrus berkata, "Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau!" [Luk 22:33]
Tanpa ragu Petrus memutuskan telinga Malkhus, seorang dari rombongan yang hendak menangkap Yesus.
Bahkan Petrus berani menegur Yesus ketika Yesus menyampaikan perihal penyerahan diri-Nya ke Yerusalem untuk disalibkan.
Katanya, "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau." [Mat 16:22]
Tetapi apa yang diperbuat Petrus ketika Yesus benar-benar ditangkap dan dituntut hukuman mati.
Petrus menjadi penakut.
Sampai 3 kali ia menyangkal mengenal Yesus, “Aku tidak kenal Dia!"

Dilahirkan sebagai laki-laki adalah keputusan yang telah diambil, dan itu takkan pernah berubah sampai akhir hayat nanti.
Maka kita pun tumbuh menjadi laki-laki dewasa, entah akan menjadi kepala keluarga dan sekaligus suami dan ayah, ataukah akan menjadi imam bagi umat.
Yang mana pun jadinya, sama-sama merupakan panggilan Tuhan.
Dan keduanya sama-sama menerima tuntutan, bahwa kita mesti memiliki “Nyali”.
Nyali adalah bahan baku dari sebuah keberanian, baik dalam bertutur-kata, bertindak maupun bersikap.
Nyali boleh dianggap semacam adrenalin, yang akan memompa tekanan darah dan meningkatkan detak jantung agar terhindar dari stress akibat ketakutan.
Nyali bukanlah adrenalin yang dihasilkan dari kelenjar hormon hewan/genetik apalagi sistetis; Ia murni berasal dari dalam diri kita sendiri.
Orang yang tidak bernyali adalah penakut atau malah pengecut.
Penakut itu tidak cukup bernyali tetapi jujur mengakuinya, sedangkan pengecut tidak jujur lalu menyangkalnya.

Setiap orang, termasuk laki-laki, memiliki rasa takut.
Tak seorang pun bisa luput.
Nyali adalah obat penawar bagi rasa takut itu.
Nyali bisa dibangkitkan dan dibangun.
Orang benar, bukan orang yang merasa benar atau membenar-benarkan diri sendiri, akan menjadi berani karena nyalinya telah dibangkitkan.
Jika kita ingin memiliki nyali, bertahanlah sebagai orang benar.

Dahulu saya tidak takut mati, malah dengan sengaja mencari-cari mara-bahaya supaya cepat mati.
Orang-orang menyebut saya pemberani, padahal sesungguhnya saya sedang berputus-asa, lalu berpikiran kematian adalah jalan keluar.
Sekarang, setelah berusaha menjadi lebih benar, saya malah takut mati.
Jika saya mati, siapa yang akan mengurusi isteri dan anak-anak saya?
Sesungguhnya saya sedang membangkitkan nyali saya, membangun nyali yang lebih kokoh, bukan untuk berani mati, melainkan untuk berani hidup, berani menghadapi hidup yang penuh godaan, cobaan dan mara-bahaya ini.


No comments:

Post a Comment