Mrk 1:29-39
“Marilah kita pergi ke tempat lain, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil.”
Pekerjaan saya telah membuat saya mesti bepergian ke berbagai kota, dari waktu ke waktu.
Saya bertugas untuk mewartakan teknologi baru dalam bidang komputer, agar dagangan bisa diserap pasar.
Mungkin tidak banyak orang yang mendapat kesempatan “jalan-jalan” seperti saya ini.
Dari pengalaman bepergian itulah saya menemukan hal-hal yang tidak terkait langsung dengan pekerjaan saya.
Saya menemukan hospitality yang tinggi dari masyarakat Jogjakarta, Solo dan sekitarnya.
Di tempat-tempat tertentu saya kesulitan menemukan gereja karena mayoritas orang bukan kristen.
Yang menarik untuk saya bagikan di sini, yakni pada suatu ketika saya makan siang di sebuah rumah makan.
Saya melihat ada orang yang tak saya kenal berada di meja lain.
Ia membuat tanda-salib dan berdoa sebelum menikmati makanannya.
Tiba-tiba saja saya merasa seolah telah mengenalnya, dan rasanya ingin bangkit berdiri dan menuju mejanya untuk menyapanya.
Tak pelak lagi, ia adalah saudara saya se-iman.
Lalu muncul pemikiran di benak saya, mengapa kesempatan jalan-jalan ini tidak saya manfaatkan untuk mewartakan Injil Tuhan?
Baiklah saya mulai dengan mengenali para kolega saya secara lebih personal, terutama untuk mengetahui apakah ia saudara saya se-iman.
Dengan saudara se-iman semestinya urusan bisnis akan dimudahkan, kesepakatan bisnis akan lebih mudah dicapai.
Tidak semestinya saya selalu menaruh curiga kepada orang lain, apalagi yang se-iman, karena itu sama artinya saya menganggap para pengikut Kristus itu tak ubahnya orang-orang Farisi.
Semestinya saya lebih mempercayai Tuhan telah menghantar saya kepada para kolega yang se-iman itu.
“Marilah kita pergi ke tempat lain, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil.”
Pekerjaan saya telah membuat saya mesti bepergian ke berbagai kota, dari waktu ke waktu.
Saya bertugas untuk mewartakan teknologi baru dalam bidang komputer, agar dagangan bisa diserap pasar.
Mungkin tidak banyak orang yang mendapat kesempatan “jalan-jalan” seperti saya ini.
Dari pengalaman bepergian itulah saya menemukan hal-hal yang tidak terkait langsung dengan pekerjaan saya.
Saya menemukan hospitality yang tinggi dari masyarakat Jogjakarta, Solo dan sekitarnya.
Di tempat-tempat tertentu saya kesulitan menemukan gereja karena mayoritas orang bukan kristen.
Yang menarik untuk saya bagikan di sini, yakni pada suatu ketika saya makan siang di sebuah rumah makan.
Saya melihat ada orang yang tak saya kenal berada di meja lain.
Ia membuat tanda-salib dan berdoa sebelum menikmati makanannya.
Tiba-tiba saja saya merasa seolah telah mengenalnya, dan rasanya ingin bangkit berdiri dan menuju mejanya untuk menyapanya.
Tak pelak lagi, ia adalah saudara saya se-iman.
Lalu muncul pemikiran di benak saya, mengapa kesempatan jalan-jalan ini tidak saya manfaatkan untuk mewartakan Injil Tuhan?
Baiklah saya mulai dengan mengenali para kolega saya secara lebih personal, terutama untuk mengetahui apakah ia saudara saya se-iman.
Dengan saudara se-iman semestinya urusan bisnis akan dimudahkan, kesepakatan bisnis akan lebih mudah dicapai.
Tidak semestinya saya selalu menaruh curiga kepada orang lain, apalagi yang se-iman, karena itu sama artinya saya menganggap para pengikut Kristus itu tak ubahnya orang-orang Farisi.
Semestinya saya lebih mempercayai Tuhan telah menghantar saya kepada para kolega yang se-iman itu.