Yoh 15:1-8 “Jadilah ranting yang subur”
Yesus mengumpamakan diri-Nya sebagai Pokok Anggur, yang ditanam di kebun, bukan tumbuhan liar.
Agar menghasilkan buah, pokok anggur membutuhkan ranting karena pada ranting anggurlah akan dihasilkan bunga anggur yang selanjutnya akan menjadi buah.
Melalui perumpamaan ini, Yesus menawarkan kepada kita, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.”
Tujuannya jelas, supaya kita tidak menjadi ranting kering, melainkan menjadi ranting yang subur. Ranting tak dapat berbuat apa-apa jika tidak berada pada batang pokoknya.
Ranting yang kering akan dipotong lalu dicampakkan ke dalam api untuk dibakar.
Menarik untuk kita simak lebih jauh bahwa ranting itu tidak berjenis kelamin.
Tidak ada ranting laki-laki atau wanita.
Artinya, baik laki-laki maupun wanita, sama-sama membutuhkan Sang Pokok Anggur itu.
Malu juga saya ketika menyadari lebih banyak wanita yang datang ke gereja atau ke pertemuan lingkungan, seolah-olah wanita lebih membutuhkan pokok anggur ketimbang laki-laki.
Kualitas ranting jelas tidak ditentukan dari gender, melainkan dari seberapa banyak buah yang dihasilkan serta seberapa lezat buah yang dihasilkan itu.
Dahulu saya pernah membuat kesepakatan dengan isteri.
Saya mengurusi urusan horisontal, mencari nafkah, sementara isteri mengurusi urusan vertikal, berhubungan dengan kegiatan gereja dan pelayanan.
Setelah kesepakatan itu kami jalankan selama beberapa tahun, saya pun akhirnya menjadi ranting yang kering karena berada jauh dari pokok anggur, dan saya pun tak mampu menghasilkan buah.
Anak-anak kami, satu laki-laki dan empat perempuan, dipaksa untuk memilih apakah akan mengikuti jejak ayahnya atau ibunya.
Jika mengikuti jejak ayahnya, ia akan berpikiran bahwa mencari nafkah itu lebih penting ketimbang berdoa atau datang ke gereja.
Gereja bukan tempat untuk mencari nafkah.
Karena masih kanak-kanak, yang tentunya berpikiran secara kanak-kanak pula, anak-anak kami tidak mampu melihat pentingnya berdoa atau datang ke gereja.
Ya Tuhan, anak-anak kami menjadi korban keputusan orangtuanya.
Kami sampai pada kenyataan, bahwa kami tinggal se rumah tetapi tidak hidup bersama.
Dunia saya adalah dunia bisnis, dunia yang berbeda dengan yang dijalani oleh isteri saya.
Kesepakatan itu pun akhirnya kami batalkan, lalu kami menjalani urusan yang horisontal mau pun yang vertikal secara bersama-sama.
Isteri saya akhirnya memahami seperti apa dunia bisnis itu, dan saya pun mulai belajar untuk menghasilkan buah sebagaimana yang diharapkan Yesus terjadi pada diri saya.
Yesus mengumpamakan diri-Nya sebagai Pokok Anggur, yang ditanam di kebun, bukan tumbuhan liar.
Agar menghasilkan buah, pokok anggur membutuhkan ranting karena pada ranting anggurlah akan dihasilkan bunga anggur yang selanjutnya akan menjadi buah.
Melalui perumpamaan ini, Yesus menawarkan kepada kita, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.”
Tujuannya jelas, supaya kita tidak menjadi ranting kering, melainkan menjadi ranting yang subur. Ranting tak dapat berbuat apa-apa jika tidak berada pada batang pokoknya.
Ranting yang kering akan dipotong lalu dicampakkan ke dalam api untuk dibakar.
Menarik untuk kita simak lebih jauh bahwa ranting itu tidak berjenis kelamin.
Tidak ada ranting laki-laki atau wanita.
Artinya, baik laki-laki maupun wanita, sama-sama membutuhkan Sang Pokok Anggur itu.
Malu juga saya ketika menyadari lebih banyak wanita yang datang ke gereja atau ke pertemuan lingkungan, seolah-olah wanita lebih membutuhkan pokok anggur ketimbang laki-laki.
Kualitas ranting jelas tidak ditentukan dari gender, melainkan dari seberapa banyak buah yang dihasilkan serta seberapa lezat buah yang dihasilkan itu.
Dahulu saya pernah membuat kesepakatan dengan isteri.
Saya mengurusi urusan horisontal, mencari nafkah, sementara isteri mengurusi urusan vertikal, berhubungan dengan kegiatan gereja dan pelayanan.
Setelah kesepakatan itu kami jalankan selama beberapa tahun, saya pun akhirnya menjadi ranting yang kering karena berada jauh dari pokok anggur, dan saya pun tak mampu menghasilkan buah.
Anak-anak kami, satu laki-laki dan empat perempuan, dipaksa untuk memilih apakah akan mengikuti jejak ayahnya atau ibunya.
Jika mengikuti jejak ayahnya, ia akan berpikiran bahwa mencari nafkah itu lebih penting ketimbang berdoa atau datang ke gereja.
Gereja bukan tempat untuk mencari nafkah.
Karena masih kanak-kanak, yang tentunya berpikiran secara kanak-kanak pula, anak-anak kami tidak mampu melihat pentingnya berdoa atau datang ke gereja.
Ya Tuhan, anak-anak kami menjadi korban keputusan orangtuanya.
Kami sampai pada kenyataan, bahwa kami tinggal se rumah tetapi tidak hidup bersama.
Dunia saya adalah dunia bisnis, dunia yang berbeda dengan yang dijalani oleh isteri saya.
Kesepakatan itu pun akhirnya kami batalkan, lalu kami menjalani urusan yang horisontal mau pun yang vertikal secara bersama-sama.
Isteri saya akhirnya memahami seperti apa dunia bisnis itu, dan saya pun mulai belajar untuk menghasilkan buah sebagaimana yang diharapkan Yesus terjadi pada diri saya.
No comments:
Post a Comment