Senin, 10 Maret 2014.

Mat 25:31-46
“Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”
Segera setelah menyelesaikan kuliah, saya kembali ke Bali untuk memulai usaha di bidang komputer.
Di samping mengelola kursus komputer, saya juga membuat software yang waktu itu masih langka.
Waktu bioritmik saya adalah malam menjelang dini hari. 
Saya bergadang semalaman menyusun program komputer.
Setiap jam 2 dini hari, saudara Made, office boy kantor, bangun untuk menyiapkan kopi bagi saya.
Saya menangkap kesetiaan dan ketulusan dari Made si office boy itu.
Ia tak sekali pun mempermasalahkan soal lembur. 
Ia hanya tahu bekerja dan bekerja.
Di lihat dari struktur organisasi, jabatan office boy itu berada di bagian bawah, yang oleh kebanyakan orang dianggap sebagai jabatan rendah atau bahkan hina.
Tetapi di mata saya, Made adalah tenaga kerja yang mesti saya apresiasi se tinggi-tingginya.
Saya mesti membalas kebaikan yang merupakan anugerah bagi saya itu.
Terlebih lagi dari Injil hari ini saya mengetahui bahwa sesungguhnya yang saya lakukan itu untuk Tuhan Yesus.
Lalu saya memanggilnya dan berkata, “Made, maukah kamu kalau kita membuat perjanjian? 
Bahwa saya akan bersama-sama kamu kelak ketika kita sudah sukses, dan bersama-sama pula di saat susah?”

Sekarang, setelah lebih dari 25 tahun berlalu, Made telah menjadi manager penting di perusahaan kami.
Made merasa bahwa saya telah mengubah “nasib”-nya, padahal itu tidak sepenuhnya benar.
Ia sendirilah yang telah membuat dirinya berhasil.
Dan saya, pertama-tama saya lakukan untuk Tuhan, melalui orang-orang yang dipandang rendah.
Selanjutnya, saya juga telah menerima “upah” dari apa yang saya lakukan itu.
Berbahagialah kita yang mampu melihat orang bukan dari kedudukannya, bukan dari status sosialnya, melainkan dari iman dan kepribadiannya.



No comments:

Post a Comment