Sabtu, 2 Agustus 2014.

Mat  14:1-12
Membangun Iman, Membangun Kesadaran Diri

Bacaan Injil hari ini telah mengingatkan saya akan pentingnya selalu menjaga kesadaran diri, terutama di saat-saat senang, agar jangan sampai kegembiraan yang berlebihan akan membuat kita meninggalkan kesadaran diri kita.
Godaan utama yang bisa meruntuhkan kesadaran diri justru muncul dari hal-hal yang menyenangkan, dalam arti kesenangan duniawi.
Herodes menjadikan kepala Yohanes Pembaptis sebagai hadiah atau uang tip karena larut dalam kegembiraan pada pesta ulang tahunnya, karena ia telah kehilangan kesadaran dirinya.

Celakanya, orang yang kehilangan kesadaran dirinya seringkali merasa dirinya sadar, padahal tidak.
Memang betul ia tidak pingsan, tetapi sesungguhnya ia telah lupa diri, lalu kemudian menjadi lupa daratan.
Penyakit ini sulit disembuhkan, dan tidak mengenal gender, walaupun tak dapat disangkal, kaum lelaki yang lebih banyak terjangkit.

Orang yang lupa diri, sangat mungkin ia juga melupakan orang-orang yang ada di sekitarnya, melupakan isteri dan anak-anaknya.
Herodes ingat bahwa ia adalah raja, yang boleh berbuat apa saja semaunya, dan itu telah membuatnya lupa diri, lalu semua tindak tanduknya menjadi lupa daratan.
Begitu mudah ia memerintahkan untuk membunuh semua bayi laki-laki yang lahir di Betlehem, hanya gara-gara paranoid terhadap nubuat akan kelahiran Sang Mesias.
Nyawa Yohanes Pembaptis, yang notabene adalah nabi besar, seolah-olah tak ada artinya sama sekali.

Kesadaran diri menjadi penting kalau kita ingin agar hidup kita ini bernilai dan berkualitas, terutama kualitas yang diukur secara rohani.
Dalam keadaan sadar, mudah bagi kita untuk memahami bahwa berbuat jahat itu dosa, dan akhirnya mudah juga bagi kita untuk menghindari perbuatan itu.
Dalam keadaan tidak sadar atau lupa dirilah godaan dan cobaan iblis akan mudah menguasai hati dan pikiran kita.

Lupa diri tidak semata-mata disebabkan oleh minuman yang berakohol, atau oleh lingkungan yang tidak menunjang, atau oleh pengaruh dan bujuk rayu orang lain, atau oleh perangkap iblis.
Penyebab utamanya adalah karena lemahnya iman kita.
Inilah alasannya mengapa saya secara terus-menerus membangun iman saya, apalagi setelah saya menyadari bahwa iman saya itu masih sangat lemah.
Masih ada kesempatan bagi saya untuk membangun iman yang unggul, yang tak lapuk dimakan usia, yang justru akan semakin kokoh setelah mengalami berbagai tempaan hidup.

No comments:

Post a Comment