Mat 11:20-24
Teguran Yang Mengingatkan
Cerewet itu identik dengan banyak ngomong atau bawel.
Orang-orang maskulin biasanya kurang menyukainya.
Saya dahulu juga begitu, merasa terganggu kalau isteri banyak berbicara hal-hal yang menurut saya sepele, tetapi lalu dibesar-besarkan.
Ada saja yang bisa dijadikan bahan pembicaraan, padahal menurut saya masih banyak hal lain yang lebih penting untuk dibicarakan.
Anak-anak saya termasuk yang banyak bertanya, dan terasa cukup mengganggu saya.
Yang tak kalah bawelnya adalah laptop saya, terlalu banyak pop-up reminder yang akhirnya malah mengganggu.
Setiap kali saya merasa terganggu, saya menunjukkan perasaan tidak senang, dan itu membuat isteri dan anak-anak saya jadi takut ngomong.
Mungkin baiknya saya menikah dengan patung saja, punya anak patung semua, agar tak terganggu.
Anehnya, dan ini benar-benar aneh.
Saya malah memelihara burung, yang kalau tak berkicau saya malah kebingungan sendiri.
Lalu saya juga memelihara anjing, yang kalau menggonggong suaranya keras sekali.
Yang terganggu oleh gonggongannya bukan hanya se isi rumah, tetapi juga para tetangga.
Mengapa saya malah senang dengan kicauan burung atau gonggongan anjing?
Mengapa saya tidak merasa terganggu?
Sesungguhnya saya ini egois, hanya mau mendengar apa yang memang ingin saya dengar.
Yang masalah ternyata bukan bawelnya, melainkan karena yang disampaikan itu bukan yang ingin saya dengar.
Saya tidak pernah mencoba untuk introspeksi, jangan-jangan saya malah lebih bawel dari mereka.
Rasa-rasanya, kalau mereka ngomong satu kalimat, saya bisa membalasnya berlipat-lipat.
Sebagai kepala keluarga, seharusnya saya bisa melihat bahwa ini tidak adil bagi mereka.
Ketika tiba saatnya saya sering bepergian ke luar kota karena urusan pekerjaan, saya meninggalkan keluarga di rumah.
Pada awalnya hal ini tidak menjadi masalah.
Kesibukan pekerjaan malah membuat saya melupakan mereka yang saya tinggalkan di rumah.
Sampai pada suatu ketika, entah dari mana asalnya, saya merasa begitu rindu akan “kicauan” isteri dan anak-anak saya.
Rasanya ingin cepat-cepat pulang.
Ini pasti karena Yesus telah menegur saya, sama seperti Yesus menegur orang-orang di kota-kota yang tidak mau bertobat itu.
Lalu apa yang saya dapati?
Selama bertahun-tahun isteri saya mesti mendengarkan saya mengorok keras saat tidur.
Tak jarang pula saya ngelindur, terkadang berteriak-teriak, dan itu jelas membuat isteri saya kaget dan terbangun dari tidurnya.
Dan masih banyak hal lain yang dipaparkan di hadapan saya, yang membuat saya menjadi malu dan merasa bersalah.
Saya mudah melihat selumbar di mata mereka, tetapi balok besar di mata saya sendiri tak nampak.
Terimakasih, Tuhan.
Saya masih mendapat kesempatan untuk memperbaiki hal-hal buruk yang telah saya lakukan bertahun-tahun itu.
Saya masih mendapat kesempatan untuk menjadi suami yang lebih baik, menjadi ayah yang lebih baik, bagi mereka yang sangat saya cintai itu.
Orang-orang maskulin biasanya kurang menyukainya.
Saya dahulu juga begitu, merasa terganggu kalau isteri banyak berbicara hal-hal yang menurut saya sepele, tetapi lalu dibesar-besarkan.
Ada saja yang bisa dijadikan bahan pembicaraan, padahal menurut saya masih banyak hal lain yang lebih penting untuk dibicarakan.
Anak-anak saya termasuk yang banyak bertanya, dan terasa cukup mengganggu saya.
Yang tak kalah bawelnya adalah laptop saya, terlalu banyak pop-up reminder yang akhirnya malah mengganggu.
Setiap kali saya merasa terganggu, saya menunjukkan perasaan tidak senang, dan itu membuat isteri dan anak-anak saya jadi takut ngomong.
Mungkin baiknya saya menikah dengan patung saja, punya anak patung semua, agar tak terganggu.
Anehnya, dan ini benar-benar aneh.
Saya malah memelihara burung, yang kalau tak berkicau saya malah kebingungan sendiri.
Lalu saya juga memelihara anjing, yang kalau menggonggong suaranya keras sekali.
Yang terganggu oleh gonggongannya bukan hanya se isi rumah, tetapi juga para tetangga.
Mengapa saya malah senang dengan kicauan burung atau gonggongan anjing?
Mengapa saya tidak merasa terganggu?
Sesungguhnya saya ini egois, hanya mau mendengar apa yang memang ingin saya dengar.
Yang masalah ternyata bukan bawelnya, melainkan karena yang disampaikan itu bukan yang ingin saya dengar.
Saya tidak pernah mencoba untuk introspeksi, jangan-jangan saya malah lebih bawel dari mereka.
Rasa-rasanya, kalau mereka ngomong satu kalimat, saya bisa membalasnya berlipat-lipat.
Sebagai kepala keluarga, seharusnya saya bisa melihat bahwa ini tidak adil bagi mereka.
Ketika tiba saatnya saya sering bepergian ke luar kota karena urusan pekerjaan, saya meninggalkan keluarga di rumah.
Pada awalnya hal ini tidak menjadi masalah.
Kesibukan pekerjaan malah membuat saya melupakan mereka yang saya tinggalkan di rumah.
Sampai pada suatu ketika, entah dari mana asalnya, saya merasa begitu rindu akan “kicauan” isteri dan anak-anak saya.
Rasanya ingin cepat-cepat pulang.
Ini pasti karena Yesus telah menegur saya, sama seperti Yesus menegur orang-orang di kota-kota yang tidak mau bertobat itu.
Lalu apa yang saya dapati?
Selama bertahun-tahun isteri saya mesti mendengarkan saya mengorok keras saat tidur.
Tak jarang pula saya ngelindur, terkadang berteriak-teriak, dan itu jelas membuat isteri saya kaget dan terbangun dari tidurnya.
Dan masih banyak hal lain yang dipaparkan di hadapan saya, yang membuat saya menjadi malu dan merasa bersalah.
Saya mudah melihat selumbar di mata mereka, tetapi balok besar di mata saya sendiri tak nampak.
Terimakasih, Tuhan.
Saya masih mendapat kesempatan untuk memperbaiki hal-hal buruk yang telah saya lakukan bertahun-tahun itu.
Saya masih mendapat kesempatan untuk menjadi suami yang lebih baik, menjadi ayah yang lebih baik, bagi mereka yang sangat saya cintai itu.
No comments:
Post a Comment