Luk 9:7-9
Utamakan Kerajaan Allah Daripada Keinginan Manusia
Kegentaran Herodes bukan semata-mata hanya kepada Yesus seorang, melainkan karena Yesus juga melakukan duplikasi.
Kedua belas murid diberi-Nya tenaga dan kuasa untuk menguasai setan-setan serta menyembuhkan penyakit-penyakit.
Lalu Yesus mengutus mereka pergi ke kota-kota dan desa-desa untuk memberitakan Kerajaan Allah, sehingga berita tentang Yesus pun semakin santer dibicarakan orang.
Herodes adalah raja yang berkuasa di wilayah Galilea.
Tetapi kelimpahan sebagai seorang raja nampaknya masih belum cukup memuaskan dirinya.
Mungkin kalau ada peluang untuk menjadi tuhan pun ia mau juga.
Ia ingin berjumpa Yesus bukan untuk diselamatkan, melainkan untuk mengetahui bagaimana caranya Yesus bisa melakukan hal-hal hebat itu.
Saya melakukan napak-tilas mengikuti perjalanan hidup saya selepas kuliah.
Karena tidak mewarisi harta materi dari orangtua, maka saya bercita-cita ingin memiliki sepeda motor agar lebih bisa lagi mengatur waktu saya dalam perjalanan, sulit jika mengandalkan kendaraan umum.
Setelah berhasil memiliki sepeda motor, nampaknya keberhasilan itu belum memberi saya kepuasan.
Saya ingin punya mobil, karena dengan sepeda motor baju saya basah ketika hujan.
Resiko kecelakaan dengan sepeda motor pun jauh lebih parah, bisa membuat patah tulang atau gegar otak, atau malah tewas.
Dengan mobil, resikonya lebih kecil, paling-paling mobilnya yang lecet atau penyok.
Setelah berhasil membeli mobil bekas yang sudah tua, lagi-lagi saya belum puas.
Saya ingin punya mobil baru yang mewah, karena ternyata mobil adalah identitas saya, menentukan status sosial saya, sementara mobil tua seringkali bikin saya susah, mogoklah, atau sering pula menguras isi dompet karena banyak suku cadang yang mesti diganti.
Begitulah, saya tak pernah benar-benar puas.
Menginginkan sesuatu, dan setelah memperolehnya saya pun menginginkan yang lebih.
Kalau hal ini tidak saya kendalikan, bisa-bisa saya punya keinginan punya isteri baru, rumah baru, dan kedudukan yang lebih tinggi, dan sebagainya.
Salahkah saya jika berkeinginan untuk meningkatkan kualitas hidup saya, mengangkat harkat dan martabat saya?
Saya tidak menemukan larangan akan hal ini di dalam Injil.
Tetapi saya menemukan bahwa yang mesti ditingkatkan adalah kualitas secara rohani, bukan materi.
"Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” [Mat 6:19,33]
Kedua belas murid diberi-Nya tenaga dan kuasa untuk menguasai setan-setan serta menyembuhkan penyakit-penyakit.
Lalu Yesus mengutus mereka pergi ke kota-kota dan desa-desa untuk memberitakan Kerajaan Allah, sehingga berita tentang Yesus pun semakin santer dibicarakan orang.
Herodes adalah raja yang berkuasa di wilayah Galilea.
Tetapi kelimpahan sebagai seorang raja nampaknya masih belum cukup memuaskan dirinya.
Mungkin kalau ada peluang untuk menjadi tuhan pun ia mau juga.
Ia ingin berjumpa Yesus bukan untuk diselamatkan, melainkan untuk mengetahui bagaimana caranya Yesus bisa melakukan hal-hal hebat itu.
Saya melakukan napak-tilas mengikuti perjalanan hidup saya selepas kuliah.
Karena tidak mewarisi harta materi dari orangtua, maka saya bercita-cita ingin memiliki sepeda motor agar lebih bisa lagi mengatur waktu saya dalam perjalanan, sulit jika mengandalkan kendaraan umum.
Setelah berhasil memiliki sepeda motor, nampaknya keberhasilan itu belum memberi saya kepuasan.
Saya ingin punya mobil, karena dengan sepeda motor baju saya basah ketika hujan.
Resiko kecelakaan dengan sepeda motor pun jauh lebih parah, bisa membuat patah tulang atau gegar otak, atau malah tewas.
Dengan mobil, resikonya lebih kecil, paling-paling mobilnya yang lecet atau penyok.
Setelah berhasil membeli mobil bekas yang sudah tua, lagi-lagi saya belum puas.
Saya ingin punya mobil baru yang mewah, karena ternyata mobil adalah identitas saya, menentukan status sosial saya, sementara mobil tua seringkali bikin saya susah, mogoklah, atau sering pula menguras isi dompet karena banyak suku cadang yang mesti diganti.
Begitulah, saya tak pernah benar-benar puas.
Menginginkan sesuatu, dan setelah memperolehnya saya pun menginginkan yang lebih.
Kalau hal ini tidak saya kendalikan, bisa-bisa saya punya keinginan punya isteri baru, rumah baru, dan kedudukan yang lebih tinggi, dan sebagainya.
Salahkah saya jika berkeinginan untuk meningkatkan kualitas hidup saya, mengangkat harkat dan martabat saya?
Saya tidak menemukan larangan akan hal ini di dalam Injil.
Tetapi saya menemukan bahwa yang mesti ditingkatkan adalah kualitas secara rohani, bukan materi.
"Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” [Mat 6:19,33]
salam kenal
ReplyDelete